Rabu, 02 November 2011

Rabu, 02 November 2011

Malu


Malu. kata yang mungkin bisa berkonotasi positif dan negatif.
Ia berkonotasi positif jika dikaitkan dengan sikap dan prilaku yang tidak layak kita lakukan. Artrinya, budaya malu harus kita kedepankan manakala akan melakukan sesuatu yang tidak baik.
Ia bisa berkonotasi negatif jika dikatkan dengan sikap rendah diri atau minder. Atau orang lebih banyak menyebutnya pemalu
Namun, malu yang saya maksud bukan terkait dengan kedua diatas. Tapi malu dengan diri sendiri. Malu belum banyak kebaikan yang saya lakukan. Malu masih sering melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup. Malu belum banyak memberikan banyak manfaat dan kebaikan buat orang banyak. Dan malu-malu yang lain dengan kelemahan yang ada pada diri sendiri. Dan yang tak ketinggalan, malu punya blog tapi belum banyak diisi dan dimanfaatkan... (mans/2-11-11)

Rabu, 14 September 2011

Rabu, 14 September 2011

Kesempatan Emas


Masih ingat film tentang perumpamaan manusia seperti gelas yang terisi air? Itu, loh, yang pak Eman putarkan ketika MOS beberapa waktu yang lalu. Ingat kan?
Seperti yang diilustrasikan dalam film tersebut, kita punya dua pilihan untuk diri kita. Apakah kita mau 'gelas' kita diisi dengan air yang jernih atau air yang kotor? Kalau kita disuruh memilih, tentu kitapun pasti akan memilih air yang jernih untuk kita isikan ke dalam 'gelas' kita. Karena siapa yang mau 'gelasnya' diisi dengan air yang kotor? Selain bisa menyebabkan gelasnya menjadi kotor, juga air yang kotor tentu tidak layak kita minum.
Anak-anakku yang pak Eman cintai, gelas itu adalah diri kita. Kita tentu tidak mau dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang kotor. Penuh dengan noda-noda kesalahan dalam diri kita. Orang lain tentu akan menjauhi kita, sebab meraka khawatir akan terbawa kepada yang tidak baik kalau mereka berteman dengan kita. Selain itu, yang paling kita tidak inginkan tentu ketika Allah pun tidak menyukai ita, lantaran kita ternyata lebih banyak berbuat kejelekan daripada kebaikan. Sebaliknya, kita pasti menginginkan diri kita dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang bersih. Senantiasa melakakukan amal-amal kebaikan, dan Allah pun tentu akan sayang kepada kita.
Anak-anaku yang pak Eman cintai, sebentar lagi akan datang kepada kita satu kesempatan emas yang tidak boleh kita lewatkan. Kesempatan emas bagi kita untuk menjadikan diri kita semakin bersih dan cintai Allah. Ya, kesempatan emas itu adalah bulan Ramadhan.
Sebagaimana kita tahu, bulan Ramadhan Allah jadikan moment spesial yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya, termasuk dilipatgandakannya pahala ibadah kita. Dengan begitu kita punya kesempatan besar untuk menghapus noda-noda kesalahan yang sudah kita lakukan, dengan cara beristighfar dan melakukan amal-amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Harapanya, kita akhirnya akan kembali bersih seperti pertama kali Allah mengeluarkan kita ke alam dunia ini. Amien.. Selamat berjuang! Selamat meraih kemuliaan di bulan Ramadhan!!* (Eman Sulaeman)

Senin, 07 Februari 2011

Senin, 07 Februari 2011

Mari Belajar dari Timnas Malaysia

“Indonesia…! Indonesia…!”  Yel-yel tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Terlebih pada akhir tahun lalu, tepatnya bulan Desember, ketika dihelatnya ajang sepakbola AFF SUZUKI CUP 2010.  Yel-yel “Indonesia…! Indonesia…!” atau “ Go Irfan…! Go Gonzales…!” menjadi makanan sehari-hari kita.
Namun, besarnya dukungan yang diberikan oleh supporter Indonesia ternyata belum mampu membuat Indonesia tampil sebagai juara. Hasilnya membuat sedih memang, karena Indonesia akhirnya harus kalah dari Malaysia dengan agregat 4-2. Sedih, tapi harus kita terima dengan lapang dada. Sebab faktanya, pada babak final lalu memang Malaysia bermain lebih bagus dari timnas kita.
 Sebagai anak yang baik dan pintar tentu kalian bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah dari semua itu.  Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kemenangan timnas Malaysia dari timnas Indonesia, diantaranya;
Pertama, Jangan patah semangat sebelum bertanding. Sebaliknya, tetaplah selalu optimis dan yakin bahwa kita pasti bisa! Siapapun tahu, sebelum pertandingan final digelar, Malaysia dan Indonesia sebelumnya pernah bertemu pada babak penyisihan grup, dan hasilnya ketika itu Malaysia kalah 1-5 dari Indonesia. Tapi hasil tersebut tidak membuat mereka lantas rendah diri dan takut. Kekalahan tersebut justru membuat mereka lebih semangat meraih kemenangan, setelah sebelumnya belajar dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat pada pertandingan penyisihan sebelumnya. Hasilnya? Tentu seperti yang kita lihat, mereka behasil.
Kedua, Disiplin. Pada pertandingan final itu kita semua tahu, betapa sulitnya para penyerang timnas Indonesia mencetak gol dan membuat peluang. Itu karena para pemain Malaysia, terutama bek-bek mereka bermain dengan penuh disiplin. Disiplin menjaga, disiplin menerima arahan-arahan pelatih. Begitupun kita. Kita tidak mungkin berhasil dan memperoleh apa yang kita inginkan kalau kita sendiri tidak disiplin. Disiplin belajar, disiplin berlatih, disiplin berusaha, disiplin berdo’a dan disiplin dengan tugas-tugas lainnya.
Ketiga, Jangan sombong dengan hasil yang sudah diraih. Khusus yang ketiga ini disampaikan sendiri oleh salah seorang pemain timnas kita, Ahmad Bustomi, dalam akun twiternya; ”Ini tamparan dari Allah untuk kita. Mungkin selama ini belum-belum kita sudah takabbur dengan hasil yang dirah…” Tidak salah memang, sebelumnya banyak pihak yang merasa sangat yakin Indonesia bakal menjadi juara. Terlebih karena sebelumnya Indonesia pernah mengalahkan Malaysia. Ingat, sombong adalah sifat negative yang harus kita jauhi. Sebab selain bisa melenakan kita, ia juga bisa menjerumuskan kita pada kebinasaan dan dosa.
Ada pepatah mengatakan, “belajarlah kamu sampai ke negeri cina,” artinya belajar lah kita darimanapun, sampai kapanpun dan dimanapun. Dan sekarang, tidak ada salahnya kita belajar dari timnas Malaysia. Belajar tentang optimisme, semangat,  disipiln dan rendah diri.* (Mans/17-01-2011)

Kamis, 30 September 2010

Kamis, 29 Juli 2010

Kamis, 29 Juli 2010

Sukses itu Pilihan !!

Sukses atau tidaknya kita sangat tergantung dengan KITA. Karena sukses itu sebuah pilihan. Laksana hidup, kita sering dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Karena hakekat hidup itu memang seni dalam memilih. So, kita mau memilih yang mana? Sukses atau tidak? Silahkan Anda putuskan! (bisa didownload disini)

Rabu, 28 Juli 2010

Rabu, 28 Juli 2010

Selamat Tinggal Piala Dunia, Selamat Datang Ramadhan !…




Pesta sepakbola paling akbar di dunia sudah usai kurang lebih sebulan yang lalu. Ya, hajatan Piala Dunia 2010 sudah selesai dengan mendaulat Spanyol sebagai juaranya. Para pendukung Spanyol (mungkin termasuk kalian di dalamnya) tentu sangat bergembira dengan hasil tersebut, karena jagoannya menang di Piala Dunia.

Hajatan Piala Dunia memang selalu menyihir jutaan orang di dunia. Betapa tidak, dan yang biasanya kurang senang dengan sepakbola biasanya ikut-ikutan juga menonton, bahkan rela begadang, serta rajin memperbincangkan hasil-hasil pertandingan. Betul kan? Ayo, jujur aja deh.. Jangan tanya mereka yang memang hoby dengan olahraga si kulit bundar itu, pasti tak ada pertandingan yang dilewatkannya.

Ngomong-ngomong tentang nonton Piala Dunia, kenapa ya kita rela bangun tengah malam? Begadang? Bahkan rela bela-belain nonton bareng? Atau kadang bahkan ada rela nyiapin cemilan atau makanan ringan segala? Ayo, kenapa coba, pada tahu gak?.. Ada banyak alasannya tentunya, bisa karena jarang (4 tahun sekali), latah atau ikut-ikut ramein biar dianggap gaul, atau memang karena hoby, dan berbagai macam alasan lainnya. Tapi dari sekian alasan, kayanya tidak ada yang nyangkut dengan masalah akhirat, tempat yang akan kita singgahi nanti, serta menambah pahala kita. Betul gak? Meskipun gak haram juga sih nonton bola.

Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, saya cuma mau mengingatkan, sebentar lagi kita akan menghadapi event tahunan yang lain, hajatan besar, bahkan lebih besar daripada Piala Dunia, acara yang sangat penting dan tidak boleh kita lewatkan sedikitpun momen-momennta, karena manfaatnya tidak hanya akan kita rasakan di dunia tapi juga di akhirat. Ya, hajat besar itu adalag bulan Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, pahala, kelebihan, dan manfaat-manfaat lainnya.

Saudara-saudaraku yang dirahmti Allah, ayo kita sambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh senang dan suka cita. Kita persiapkan kedatangannya dengan sebaik-baiknya. Kalau untuk Piala Dunia kita rela nyiapin segala sesuatu, rela bangun tengah malam, kenapa untuk bulan Ramadhan tidak? Padahal manfaat dan kelebihannya sudah tentu lebih banyak untuk kita. Jadi, saatnya kita ucapkan, Selamat Tinggal Piala Dunia, Selamat Datang Ramadhan !...** (Mans)

Selasa, 27 Juli 2010

Selasa, 27 Juli 2010

Karena Setiap Kita Berhak untuk Sukses

Pada satu waktu dikisahkan, di sebuah sekolah, seorang guru mendapat pertanyaan dari salah seorang muridnya yang paling kritis. "Guru, apakah kami semua nanti bisa sukses?" Sang guru tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak lama, ia mengeluarkan uang senilai seratus ribu dari kantongnya. "Hayoo, siapa yang mau uang ini?" Semua anak berebutan mengacungkan tangannya. Uang senilai itu bagi mereka sangat besar.

Tiba-tiba, sang guru melipat-lipat dan meremas uang itu hingga kucel dan tidak karuan bentuknya. Ia pun berujar lagi, ”Hayoo, siapa yang mau uang ini?” Walaupun merasa heran dengan kelakuan gurunya, murid-murid tidak peduli, mereka kembali mengacungkan jarinya, sambil berteriak ”Saya… saya... saya....” Semua serempak mengajukan diri untuk mendapatkan uang itu.

Melihat antusiasme muridnya, sang guru kemudian menjatuhkan uang tersebut ke lantai dan menginjak-injak uang itu hingga kecil, tidak karuan dan kotor. Mendapati gurunya melakukan hal itu pada uang tersebut, sebagian murid melongo. Mereka tak tahu apa maksudnya sang guru menginjak-injak uang yang nilainya sangat besar bagi mereka itu. Guru pun kembali bertanya, ”Hayoo, siapa yang masih menginginkan uang ini?”
Ternyata, meski uang itu menjadi jelek, kumal, dan bahkan bercampur sedikit lumpur yang berasal dari injakan sepatu guru, masih banyak murid yang antusias mendapatkan uang tersebut. ”Aku, Guru… aku....”
”Kalian tetap saja mau dengan uang ini? Kalian tidak melihat betapa uang ini sangat kucel, jelek, kumal dan bau?”
”Jelek itu kan hanya bentuknya saja, Guru. Tetapi saja uang itu nilainya seratus ribu,” jawab murid-murid yang tetap antusias meminta gurunya memberikan uang itu.

Sang guru pun kemudian berujar, ”Kalian benar. Meskipun sudah tidak karuan bentuknya, uang itu tetap berharga dan kalian tetap ingin memilikinya. Nah, jika tadi ada pertanyaan, apakah semua bisa sukses? Jawabannya sama seperti nilai uang ini. Dalam proses menuju ke arah kesuksesan, kalian pasti akan mengalami berbagai ujian dan cobaan, mungkin mengalami jatuh, diinjak, dan dilecehkan. Walaupun begitu, nilai diri kalian tidak akan berubah. Semua tergantung kalian sendiri, bisa menjaga nilai yang ada dalam diri kalian atau tidak. Jika kalian mampu menghargai diri sendiri dan menentukan nilai diri, dengan keyakinan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, maka sukses pasti kalian dapatkan.”

Anak-anak sekalian yang Bapak cintai, tak peduli berbagai ujian, cobaan, halangan, dan tantangan yang menghadang, jika kita punya satu nilai dalam keyakinan dalam diri, bahwa sukses adalah hak saya, maka jalan kesuksesan pasti akan selalu terbuka untuk kita.
Karena itu, seberat apa pun perjuangan yang kita lakukan, seganas apa pun padang gurun yang kita harus lewati, setinggi apa pun gunung yang akan kita daki, seluas apa pun samudra yang kita seberangi, tetaplah pelihara semangat ”Sukses adalah hak Saya!”. Tanamkan dalam diri, dan teruslah bekerja keras untuk mewujudkan semua mimpi. Harta tak ternilai itu ada dalam diri kita. Perjuangkan!!!
Salam Sukses !! Dan selamat Hari Anak Nasinal tahun 2010. (Mans; Sumber: Andri Wongso, Pembelajar.com)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates